Siswa Wawancarai Pelatih Tapak Suci Asal Belanda
Mudisaofficial.com – Sejumlah siswa mendapatkan pengalaman berharga saat mewawancarai Max, pelatih Tapak Suci asal Belanda. Kegiatan ini menjadi ajang latihan berbahasa Inggris sekaligus pembelajaran lintas budaya yang berlangsung santai dan penuh makna. Pada Senin (12/1/2026) di Auditorium Mudisa Lantai 3.
Wawancara dibuka dengan sapaan sederhana menggunakan bahasa Inggris. Para siswa mengaku kemampuan bahasa Inggris mereka masih terbatas, namun tetap berani mencoba berkomunikasi langsung.
Saat diminta memperkenalkan diri, Max menjawab, “My name is Max.”
(Nama saya Max.)
Ia kemudian menjelaskan latar belakang dirinya.
“I’m from the Netherlands. I was born in Semarang, but when I was three years old, I moved to the Netherlands.”
(Saya dari Belanda. Saya lahir di Semarang, tetapi saat berusia tiga tahun pindah ke Belanda.)
Max juga menceritakan asal-usul keluarganya.
“My mother is from Magelang and my father is from Semarang.”
(Ibu saya dari Magelang dan ayah saya dari Semarang.)
Saat ini, Max berusia 52 tahun dan tinggal di sebuah kota di Belanda yang juga menjadi lokasi Kedutaan Besar Republik Indonesia. Ia pun menjelaskan rencana perjalanannya selama berada di Indonesia.
“I plan to stay in Indonesia for thirty days. I want to go everywhere.”
(Saya berencana tinggal di Indonesia selama 30 hari. Saya ingin pergi ke mana-mana.)
Ia merinci rencana kunjungannya, termasuk ke Jember.
“I will stay four days in Jember, one week in Semarang, one day in Yogyakarta, and maybe two weeks in Bali. I don’t know yet.”
(Saya akan tinggal empat hari di Jember, satu minggu di Semarang, satu hari di Yogyakarta, dan mungkin dua minggu di Bali. Saya belum tahu pasti.)
Pesan untuk Generasi Muda
Pada akhir wawancara, para siswa meminta pesan motivasi untuk generasi muda. Max pun menyampaikan nasihat yang sarat nilai pendidikan.
“What is really important is that you have to listen to your teachers.”
(Yang paling penting adalah kalian harus mendengarkan guru-guru kalian.)
Menurutnya, guru memiliki pengalaman yang sangat berharga.
“Nowadays young people like to discuss with their teachers, but trust me, they have experience.”
(Saat ini anak muda suka berdebat dengan guru, tetapi percayalah, mereka punya banyak pengalaman.)
Selain guru, Max menekankan pentingnya menghormati orang tua.
“You also have to respect your parents, because they work hard to bring you to school.”
(Kalian juga harus menghormati orang tua, karena mereka bekerja keras untuk menyekolahkan kalian.)
Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk terus belajar sepanjang hayat.
“Always keep learning. I am fifty-two years old, but I’m still learning.”
(Teruslah belajar. Saya berusia 52 tahun, tetapi saya masih terus belajar.)
Suasana wawancara berlangsung akrab dan penuh kehangatan. Ketika siswa meminta maaf karena merasa pertanyaannya kurang baik, Max justru memberi semangat.
“There are no dumb questions. It’s always good to ask questions.”
(Tidak ada pertanyaan bodoh. Bertanya itu selalu baik.)
Kegiatan siswa wawancarai pelatih Tapak Suci asal Belanda ini menjadi pengalaman berharga karena melatih keberanian berkomunikasi dalam bahasa Inggris sekaligus menanamkan nilai disiplin dan hormat kepada guru.

