Kabar Mudisa

Isra Mi’raj SD Mudisa Jember Tanamkan Cinta Salat

MudisaOfficial.com – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di gelar di Masjid Muhammad Darwis SD Mudisa Jember, Selasa (13/1/2026). Kegiatan yang berlangsung setelah salat Dhuha ini di ikuti oleh seluruh siswa dengan penuh antusias.

Pengisi ceramah adalah Prayugo Fatahilah SPd, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Mudisa. Dalam tausiyahnya, ia mengajak siswa untuk meminta keberkahan hidup kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya di bulan Rajab, agar bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadan dalam keadaan terbaik.

“Di bulan Rajab ini ada peristiwa yang sangat istimewa. Anak-anak tahu apa itu?” tanya Pak Prayugo, yang langsung di sambut jawaban kompak para siswa, “Isra Mi’raj!”

Ia kemudian menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada 17 Rajab, yang pada tahun ini bertepatan dengan 16 Januari. Peristiwa tersebut menjadi bukti kekuasaan Allah sekaligus perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu di lanjutkan Mi’raj menghadap Allah SWT.

Pak Prayugo menegaskan bahwa perjalanan luar biasa ini tidak bisa di ukur dengan logika manusia biasa. Jarak yang sangat jauh tidak mungkin di tempuh dengan kendaraan biasa dalam satu malam, namun Allah memberikan kendaraan khusus yang bergerak dengan kecepatan luar biasa.

“Karena itu, orang-orang pada zaman Nabi banyak yang tidak percaya. Tapi sebagai orang beriman, kita yakin bahwa ini adalah mukjizat,” jelasnya.

Dalam perjalanan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi di setiap lapisan langit hingga akhirnya menghadap Allah SWT. Pada momen inilah, Allah memberikan perintah salat kepada umat Islam.

Awalnya, salat itu wajib sebanyak 50 waktu dalam sehari. Namun, karena kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, beliau beberapa kali memohon keringanan hingga akhirnya Allah swt tetapkan menjadi 5 waktu.

“Inilah bukti betapa Nabi Muhammad sangat mencintai umatnya. Salat itu bukan beban, tapi bentuk kasih sayang Allah kepada kita,” ungkap Pak Prayugo.

Pentingnya Menjaga Salat

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga salat, terutama salat Subuh, serta menanamkan kesadaran sejak dini bahwa salat adalah perintah langsung dari Allah SWT. Guru dan orang tua, lanjutnya, memiliki peran besar dalam membimbing anak-anak agar mencintai ibadah, bukan karena takut hukuman, melainkan karena rasa cinta.

“Ketika kalian salat dengan baik, ibadahnya bagus, akhlaknya baik, prestasinya juga akan ikut baik,” pesannya.

Di akhir ceramah, Pak Prayugo mengajak siswa untuk rajin melaksanakan salat wajib dan mulai mengenal salat sunah yang telah di pelajari di kelas, sebagai bekal membentuk karakter muslim yang taat dan bertanggung jawab.

Pak Prayugo juga menekankan bahwa salat merupakan ibadah yang pertama kali akan di hisab kelak di akhirat. Oleh karena itu, ia mengajak para siswa untuk membiasakan diri menjaga salat sejak usia dini, baik di sekolah maupun di rumah. Menurutnya, pembiasaan yang di lakukan secara konsisten akan membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa guru dan orang tua tidak pernah lelah membimbing anak-anak karena dilandasi rasa cinta. “Cinta orang tua dan guru itu terlihat dari usaha mengajarkan kebaikan, termasuk salat. Jika kalian tumbuh menjadi anak yang saleh dan berprestasi, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri,” tuturnya.

Acara peringatan Isra Mi’raj ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran spiritual siswa serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam lingkungan sekolah.


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *