Kabar Mudisa

Siswa Mudisa Belajar Mengolah Sampah

MudisaOfficial – Siswa Mudisa belajar mengolah sampah melalui pembelajaran lingkungan bersama praktisi pengolahan sampah, Imam Mujiono, pada Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian pembelajaran selama tiga hari dengan materi pengolahan sampah organik.

Pada kegiatan Selasa, siswa kelas IV dan VI mengikuti pembelajaran di Masjid Muhammad Darwis. Sementara itu, siswa kelas III dan V mengikuti kegiatan di Auditorium Mudisa pada hari Kamis (13/8/2026).

Imam Mujiono menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Ia menjelaskan teknologi sederhana untuk mengolah sampah dapur menjadi pupuk organik.

Menurut Imam, masyarakat dapat mengolah sampah dapur langsung dari rumah. Cara tersebut dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan sementara.

“Begitu selesai masak, langsung mengolah bahan-bahan sampahnya menjadi pupuk organik,” jelas Imam.

Siswa Mudisa Belajar Mengolah Sampah Organik

Dalam pemaparannya, Imam memperkenalkan keranjang sebagai media pengolahan sampah dapur. Ia menyebut alat tersebut dapat ditempatkan di area dapur rumah.

Selanjutnya, Imam menjelaskan berbagai bahan dan alat yang perlu disiapkan. Beberapa di antaranya berupa keranjang, kardus botol air mineral, pupuk starter, sekam sebagai bantalan, larutan EM4, dan alat penyemprot.

Pupuk starter berfungsi menyediakan bakteri untuk membantu proses penguraian. Sementara itu, bantalan sekam membantu mengatur suhu dan kelembapan dalam media pengolahan.

Imam kemudian memperagakan proses pembuatan media pengolahan sampah. Ia memasukkan kardus ke dalam keranjang sebagai bagian dari media.

Setelah itu, ia menempatkan bantalan sekam pada bagian dasar kardus. Kemudian, Imam memasukkan pupuk starter hingga sekitar separuh tinggi kardus.

Berikutnya, sampah dapur seperti kulit wortel, kulit kentang, dan sisa sayuran mendapat semprotan larutan EM4. Larutan tersebut membantu proses penguraian bahan organik.

Setelah itu, siswa mengamati proses pencampuran sampah dengan bahan pengurai. Imam mengaduk sampah agar bahan tidak menumpuk pada satu bagian.

Selanjutnya, ia menutup bahan tersebut menggunakan bantalan sekam. Proses tersebut dapat dilakukan berulang setiap kali rumah menghasilkan sampah dapur.

Menurut Imam, proses pengolahan dapat terus berlangsung hingga media penuh. Setelah itu, pupuk organik dapat terbentuk dalam waktu sekitar dua minggu.

Mengurangi Sampah dari Rumah

Imam menjelaskan bahwa pengolahan sampah dari rumah dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan. Karena itu, kebiasaan tersebut perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

“Kesulitannya ada pada tidak semua orang mampu mengawali,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, siswa Mudisa mendapatkan pengalaman langsung tentang pengelolaan sampah organik. Mereka juga memahami bahwa sampah dapur dapat memiliki manfaat ketika masyarakat mengolahnya dengan tepat.

Selain itu, pembelajaran tersebut mendorong siswa untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan. Mereka dapat menerapkan pengetahuan tersebut bersama keluarga di rumah.

Dengan kegiatan ini, siswa Mudisa belajar mengolah sampah sekaligus mengenal cara sederhana memanfaatkan limbah organik. Sekolah berharap pengalaman tersebut dapat membentuk kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *